9.29.2011

ICU

hati dan pikiran penuh grafik-grafik
naik turun serupa mesin denyut jantung
berdetak, berdegup, dentum
terhimpit diantara selang, pemindai dan kabel-kabel yang berserak
aku lupa mengingat
pun lelah bernafas
mata terpejam pikir melayang
terpasung impian dan keinginan
rasa, hasrat, nafsu, getar, debar
aku hanya ingin tidur
lelap, senyap

9.26.2011

dunia antara

ini dunia antara
tentang hitam putih lalu mengabu
juga dunia antara
yang nyata, maya, kini juga lalu, bisu

lelah

di senja yang menua, tertatih-tatih menuju isya.. di antara doa yang coba diimla . terlupa, entah dimana, lelah yang memenjara jiwa, juga raga..

9.23.2011

cold

time is ticking
the ticking seems so long
i really wanna go home

day is rolling
the rolling seems so slow
i just wanna let it flow

year is changing
the change seems never grow
i need God to hold

hati yang mati

pada pagi
saat matahari belum lagi tinggi
aku melepas hati
yang dulu lama bermukim di bilik-bilik dekat perigi
hati yang kusiram agar semi
kini tiba masa untuknya pergi
bukan hampa yang kurasa kini
tapi keikhlasan, bila ada datang, pasti ada pergi
apakah sunyi kali ini
kosong lalu ranggas bagai daun-daun sebelum semi
entah, sejak lama, aku mengubur perasaan, mati

9.21.2011

Aku Rasa, Melihatmu

aku rasa, aku melihatmu
memakai kemeja pink di antara lalu lalang kendara berwarna abu-abu
aku rasa aku melihatmu
ah ternyata tidak, itu hanya bayangmu yang lantas hilang tersaput debu

9.20.2011

lalu tiba saat kematian itu*

saat kepulangan tiba
pada insan di rahimnya kita menghamba
separuh nyawa hilang terbawa
maka kata, hanya menyesak didada
airmata pun menyesap di pori jiwa
lalu hanya hampa terasa
moga iman dan doa
menguatkan kita
bahwa setiap duka
selalu beriring dengan suka
dan hikmah menyertainya
bila Tuhan ada dalam hati manusia



judul diambil dari sini http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/05/lalu-tiba-kematian-itu/

9.15.2011

kremun yang jatuh di tingkap

kremun
ditingkahi samar mentari
memerak di tepian teritipan
keemasan, jatuh diantara tingkap setengah terbuka
seiring kerai bambu yang kau tarik, luruh

lalu lalang dara, perjaka
dalam langkah bergegas menuju ujung senja
kemana, dimana .. entah

lantas kremun diantar silirnya bayu
usap lembut anak-anak rambutmu
ada rindu yang rinai
melayang, mengambang bersama kremun
lantas serupa halimun
perlahan menghilang bersama bayang

kremun yang terus luruh
mencium kelopak-kelopak bunga
membasuh helai-helai dedaun
sapukan lukisan keheningan

sebuah tunggu
berbinaran di bening matamu
lantas mengabut dalam usapan punggung tanganmu
hempaskan kerinduan, semu

9.12.2011

orang ketiga

dia datang dan menginap
melihatnya tua, lelah dan merenta
ada iba yang hinggap
terkenang ibu, telah buktikan ucapnya

beribu duri pernah tertebar dan terbagi
banyak raga, jiwa, lara tersakiti
buliran janji-janji, teringkari
lantas mengkarat menjadi pedih, lirih, perih, benci

lantas masa itu kini tiba
merangkak, tertatih hanya untuk meniti tangga
satu-satu nafasnya berkejaran, terengah bersama darah
semua luka,amarah, mendadak sirna, musnah

kini tinggal menunggu waktu
untuk sebuah janji yang diucap sepenuh hati
telah tiba tuk turut ucap ibu
kami terima dia, jadi bagian hidup kami