9.15.2011

kremun yang jatuh di tingkap

kremun
ditingkahi samar mentari
memerak di tepian teritipan
keemasan, jatuh diantara tingkap setengah terbuka
seiring kerai bambu yang kau tarik, luruh

lalu lalang dara, perjaka
dalam langkah bergegas menuju ujung senja
kemana, dimana .. entah

lantas kremun diantar silirnya bayu
usap lembut anak-anak rambutmu
ada rindu yang rinai
melayang, mengambang bersama kremun
lantas serupa halimun
perlahan menghilang bersama bayang

kremun yang terus luruh
mencium kelopak-kelopak bunga
membasuh helai-helai dedaun
sapukan lukisan keheningan

sebuah tunggu
berbinaran di bening matamu
lantas mengabut dalam usapan punggung tanganmu
hempaskan kerinduan, semu

No comments:

Post a Comment