4.20.2012

Kenang nan Lekang

Bukankah itu semua pertanda?
Kala angin berhembus, menyeret megamega menjauh
Daundaun jatuh, rinai pun luruh

Lantas mengapa kau masih bersikukuh untuk sebuah harap?
Yang pudar perlahan bersama bayangbayang
Dan kenangan menjadi hantu

Akankah sepanjang sisa umurmu?
Kenang demi kenang, kan lekang
Terseret-seret, berderak, berserak

Serupa dandelion, terbang, merayap, hilang
Tersisa hanya kenang, kenang dan kenang

4.19.2012

Semalam Kulihat Ibu

Semalam kulihat Ibu
Dia selalu datang kala aku gundah
Bukan karena lupa menyebut namanya dalam doa

Semalam kulihat Ibu
Tersenyum tanpa kata
Ada airmata yang dia tahankan agar tak jatuh berderai

Semalam kulihat Ibu
Bibirnya mengimla doa-doa
Agar airmatanya berubah menjadi mataair rahmat dari-NYA

Semalam kulihat Ibu, sungguh kumelihatnya

4.08.2012

Keliru


bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan 
aku telah membaca, namun Tuhan tak pernah kutemukan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
tak pernah kutahu bapak dan ibuku, lalu dari darah siapa aku bermula?

bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
semurah apakah Dia? yang kutahu hanya berkutat dalam pekat kelamnya dunia, di sini di antara lonte yang lupa cara memakai BH dan lelaki yang  memuncratkan mani tanpa peduli wadahnya, juga seberapa kuat nyalimu bicara

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
pena siapakah yang akan menuliskan angka kematian, ketika sebilah belati, menjadi penentu urat nadi, lantas bangkai tubuhmu, mengambang di kali hingga jauh

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)
aku telah membaca,
di antara caci maki,
di antara luka-luka,
di antara jijik dan tertutupnya mata batin, aku, dia, mereka
di antara tajamnya belati, nadi yang koyak berdarah,
kepada Tuhannya siapa aku kembali? mungkinkah aku salah membaca?
aku tak pernah tahu, dan kini bukan saatnya untuk mencari tahu,
malam semakin kelam, sekelam bijimataku yang tertutup bersama hilangnya kesadaran