Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

4.19.2012

Semalam Kulihat Ibu

Semalam kulihat Ibu
Dia selalu datang kala aku gundah
Bukan karena lupa menyebut namanya dalam doa

Semalam kulihat Ibu
Tersenyum tanpa kata
Ada airmata yang dia tahankan agar tak jatuh berderai

Semalam kulihat Ibu
Bibirnya mengimla doa-doa
Agar airmatanya berubah menjadi mataair rahmat dari-NYA

Semalam kulihat Ibu, sungguh kumelihatnya

3.06.2012

Ibu, yang Berdoa untuk Kematiannya

ada kala
ibu berdoa untuk kematiannya
dalam sunyi, diamdiam
saat benihbenih
yang dulu terkandung dalam rahim
kini besar, jumawa, menggenggam bara


ada kala
ibu berdoa untuk kematiannya
dalam tangis, nir airmata
tanpa isak, hanya sisakan sesak
saat benihbenih
yang dulu dibelai buaian sayang
kini besar, jumawa, menjadi angkara

1.25.2012

Para Ibu

untukmu
yang malammalam-mu terjaga,karenaku
tak peduli saat bulan masih muda, pun menua seiring waktu
dalam diam, tanpa suara, hanya belai, hanya laku

untukmu, duhai
sang penjaga perawan
dan jejaka yang belum genap menjadi tuan
senyummu, kasihmu, tak tertanding, bahkan oleh emas berkilauan

dan lagi untukmu, puan
sang ratu dari segala ratu
bila saja sembah dibolehkan di kakimu
bila saja sujud diperkenan di tanganmu
sungguh, segala raga, jiwa, ini hanya untukmu

lantas segalanya untukmu, ibu
sungguh, bila kau wanitawanita, penuh kasih dan cinta yang pantas dipanggil ibu
oleh kami, titisan benih, anakanak-mu

11.15.2011

beranda mimpi

kamu hidup di beranda mimpiku
yang setiap pagi dan sore, kusirami
dan kala malam jelang jemput dini hari, kau ada di helaan nafas
ibu, ibu, ibu, tengadahlah aku,
senyummu larung di mega-mega yang berarak di beranda mimpi

6.09.2011

aku bersyukur , Bu

aku bersyukur, Bu

kau tak lagi resah tentang kefanaan

saat pedih hidup kami bebat erat-erat

kau tak lagi disisi, dan diam-diam menahan airmata


aku bersyukur, Bu

ketika kerontangnya jalan ini tak jua terputus

kau tak lagi tahu, hingga tak akan ku dengar isakmu tertahan

saat mengadu pada sang pemilik ruh


aku bersyukur, Bu

kala langkah kami semakin tak beratur dan seok

kau tak lagi disini, dan diam-diam kau hela nafasmu dalam disela sesakmu


aku bersyukur, Bu

mimpikanlah aku, bila mulai lalai, bahwa aku harus terus bersyukur

Kulihat Hujan

aku melihat hujan
dilentik matamu, membayang
bukan hanya rinai, menderas
luruhkan kesah, yang lama endap

aku melihat hujan
di sudut senyummu, mengembang
bukan hanya gerimis, membadai
singkirkan lelah, yang lama lekat

aku melihat hujan
di keriput punggung tanganmu, lekang
bukan hanya rintik-rintik, mencurah
patrikan kisah, yang sebentar lagi usai

Ibu, Aku Hanya Bertamu

Ibu, ini aku, anakmu, datang bertamu

Maaf Bu, aku baru datang sekarang, di antara beribu waktu yang kubuang di jalan-jalan

Ibu, Aku hanya bertamu, bukan untuk tinggal, seperti masa aku bak putri raja dalam angan

Maaf Bu, bukankah aku membesar diantara belaimu, juga putaran jaman

Ibu, kau tahu bukan? cinta tak harus kita ucap dan umbar-umbar?

Maaf Bu, bila ku tak sempat bilang, aku menyayangimu

Ibu, bukankah Ibu yang bilang, nyata itu lebih penting nak, dibanding janji laksana wewangi dupa dari surga

Maaf Bu, bila di antara doa, aku menyebut namamu terlupa dan tiada

Ibu, ini aku, anakmu, datang bertamu

Maaf bu, saat mawar tujuh warna terlalu mahal harganya, hanya kembang pacar banyu, warna ungu kutebar di sanggulmu

Ibu, Aku hanya bertamu, maafkan aku

**


seputik bunga kamboja, jambon warnanya, jatuh di tengah pusara


Pada Ibu

ada sendu
di mata Ibu

tentang anak-anaknya yang hilang
tentang suaminya yang berpulang
tentang langkah di sebuah simpang
tentang kenangan yang lalu lalang

ada gerimis
di bibir Ibu yang tipis

tentang angin kemarau
tentang burung yang berkicau
tentang senda gurau
saat senja, melabuh jauh, parau

ada pelangi
dipatri Ibu, di hati

tentang hidup yang sempurna
tentang berputarnya masa
tentang pasrah akan takdirnya
tentang tangan tengadah, menampi doa-doa, di ujung usia