aku terjaga sesaat sebelum pagi tiba. dalam perjalanan menuju kotamu. di antara degup roda kereta yang tak henti melaju. dan orang-orang yang terkesiap, menggeliat, terhenyak, ternyata waktu begitu lambat, perjalanan belum lagi usai.
aku terjaga sesaat sebelum pagi tiba. dengan dermaga kepala penuh pikiran yang membuang sauh, sebelum kembangkan layar, kembara ke negeri antah.halimun yang turun, menyusup, menyesap, penuhi rongga-rongga jiwa, dingin, perlahan membeku.
aku terjaga sesaat sebelum pagi tiba. terbayang semburat wajahmu, berarak perlahan menantiku, tiba di sudut hatimu, lantas beku mencair, serupa magma rindu yang buncah.
aku terjaga sesaat sebelum pagi tiba. setelah kelopak membuka sempurna, nyawa kembali masuk dalam raga, tersadar. lamunan sesap perlahan, mengembun dan menguap berbareng sinar mentari menyeruak di tepian kotamu.
aku terjaga sesaat sebelum pagi tiba, kau, entah, tiada.
Showing posts with label para pria. Show all posts
Showing posts with label para pria. Show all posts
10.09.2011
10.04.2011
9.23.2011
hati yang mati
pada pagi
saat matahari belum lagi tinggi
aku melepas hati
yang dulu lama bermukim di bilik-bilik dekat perigi
hati yang kusiram agar semi
kini tiba masa untuknya pergi
bukan hampa yang kurasa kini
tapi keikhlasan, bila ada datang, pasti ada pergi
apakah sunyi kali ini
kosong lalu ranggas bagai daun-daun sebelum semi
entah, sejak lama, aku mengubur perasaan, mati
saat matahari belum lagi tinggi
aku melepas hati
yang dulu lama bermukim di bilik-bilik dekat perigi
hati yang kusiram agar semi
kini tiba masa untuknya pergi
bukan hampa yang kurasa kini
tapi keikhlasan, bila ada datang, pasti ada pergi
apakah sunyi kali ini
kosong lalu ranggas bagai daun-daun sebelum semi
entah, sejak lama, aku mengubur perasaan, mati
9.21.2011
Aku Rasa, Melihatmu
aku rasa, aku melihatmu
memakai kemeja pink di antara lalu lalang kendara berwarna abu-abu
aku rasa aku melihatmu
ah ternyata tidak, itu hanya bayangmu yang lantas hilang tersaput debu
memakai kemeja pink di antara lalu lalang kendara berwarna abu-abu
aku rasa aku melihatmu
ah ternyata tidak, itu hanya bayangmu yang lantas hilang tersaput debu
6.26.2011
Padamu Yang Kutitipkan Hati
padamu
yang kutitipkan hati
apa kabar hari ini?
padamu
yang kutitipkan hati
masih utuhkah cinta yang serta
bersamanya?
padamu
yang kutitipkan hati
kau terlupa sebuah kunci, hingga
kasih yang kuturutkan tak
terpelihara
padamu
yang kutitipkan hati
sayup kudengar, kasih ini perlahan
mati
padamu
yang kutitipkan hati
tirai air mata perlahan turun iring
rindu yang usai
yang kutitipkan hati
apa kabar hari ini?
padamu
yang kutitipkan hati
masih utuhkah cinta yang serta
bersamanya?
padamu
yang kutitipkan hati
kau terlupa sebuah kunci, hingga
kasih yang kuturutkan tak
terpelihara
padamu
yang kutitipkan hati
sayup kudengar, kasih ini perlahan
mati
padamu
yang kutitipkan hati
tirai air mata perlahan turun iring
rindu yang usai
6.20.2011
Kepada Dia Yang Tak Bernama
kepada dia yang tak bernama
setiap senja menghadap jentera
hanya asap, kepul menguap
dalam diam, acuh pada udara yang pengap
kepada dia yang tak bernama
kukuh tergurat di wajah
kokoh terpatri di tiap urat nadi
tak ada senyum, hanya mata yang kerjap, dingin, namun penuh arti
kepada dia yang tak bernama
aku suka, sebelum kereta, pisahkan kita
setiap senja menghadap jentera
hanya asap, kepul menguap
dalam diam, acuh pada udara yang pengap
kepada dia yang tak bernama
kukuh tergurat di wajah
kokoh terpatri di tiap urat nadi
tak ada senyum, hanya mata yang kerjap, dingin, namun penuh arti
kepada dia yang tak bernama
aku suka, sebelum kereta, pisahkan kita
6.09.2011
untuk yang terkasih
aku tak ingin mengandaikan dirimu
serupa embun mencium dedaunan perindu
selaksa fajar pagi rekah malu-malu
atau senja yang mengendap sembilu
aku hanya melihat garis wajahmu
penuh kerut,lekang tertimpa usia
menatap hitam kulitmu
terbakar dalam setiap kerasnya usaha
menggenggam erat tanganmu
dalam rengkuhmu, dulu aku bermanja
dalam tepekur harimu yang tersisa
dalam sujud yang kadang masih kau lupa
dalam laku bukan hanya kata
serupa itu darah kita menyatu bersama
untukmu yang terkasih
sudilah terima sedikit bakti
walau tak kan mampu terbalas walau hanya seujung jari
meski kadang kita berselisih
Percakapan, Perceraian
selamat pagi
lantas sebuah senyum maya kau haturkan
segala hasrat buncah
segala norma musnah
segala rasa, gundah
segala pikir, gairah
lantas aksara mengalun
beriak-riak, kau, aku, melambung
taburan rayuan
berserakan bagai gugur dedaunan
terlena, maya, fatamorgana
selamat malam
lantas sebuah tangan maya kau lambaikan
terbangun
kau, aku hanya bayang-bayang
lantas sebuah senyum maya kau haturkan
segala hasrat buncah
segala norma musnah
segala rasa, gundah
segala pikir, gairah
lantas aksara mengalun
beriak-riak, kau, aku, melambung
taburan rayuan
berserakan bagai gugur dedaunan
terlena, maya, fatamorgana
selamat malam
lantas sebuah tangan maya kau lambaikan
terbangun
kau, aku hanya bayang-bayang
Padanya, Aku Terlekat
aku tahu,
dirimu
gejolak yang endap
memagma, hingga tak tertahan, amarah
dirimu
gelora yang padam
mengonak, hingga tak tertahan,berdarah
dirimu
hasrat yang surut
mengering, hingga tak tertahan, gelisah
dirimu
pikir yang tercerai
meletup, hingga tak tertahan, bagai bah
dan aku tahu,
dirimu
hati yang beku
melunak, hingga tak tertahan, penyesalan
dirimu
gejolak yang endap
memagma, hingga tak tertahan, amarah
dirimu
gelora yang padam
mengonak, hingga tak tertahan,berdarah
dirimu
hasrat yang surut
mengering, hingga tak tertahan, gelisah
dirimu
pikir yang tercerai
meletup, hingga tak tertahan, bagai bah
dan aku tahu,
dirimu
hati yang beku
melunak, hingga tak tertahan, penyesalan
Subscribe to:
Posts (Atom)