6.20.2011
Kepada Dia Yang Tak Bernama
setiap senja menghadap jentera
hanya asap, kepul menguap
dalam diam, acuh pada udara yang pengap
kepada dia yang tak bernama
kukuh tergurat di wajah
kokoh terpatri di tiap urat nadi
tak ada senyum, hanya mata yang kerjap, dingin, namun penuh arti
kepada dia yang tak bernama
aku suka, sebelum kereta, pisahkan kita
6.09.2011
di rembang petang
dua baris besi memanjang
tepi peron dekat pelataran
suasana di rembang petang
kau, aku duduk bersisian
harum kelelahan menyeruak
tatapmu hanya pada ujung sepatu
sedang anak-anak rambutku tersibak
saat bayu mengiring kereta, melaju
berhari kita tapaki dalam diam
hanya hela dan tatap hampa
jutaan kata kian tenggelam
kau, aku memilih tak bicara
senja makin temaram
saat kereta datang
yang ada hanya sedikit gumam
kau, aku terpisah ruang
tatapmu hanya pada ujung sepatu
lelah semakin tampak di kerut dahimu
anak-anak rambutku tersibak
saat kereta berangkat, hanya kenang, tersisa, bergejolak
Tugu & Tunggu
ribuan kurcaci bergerak
memutar tuas-tuas roda kereta
cepat dan semakin cepat
menuju kota kita
fajar rekah di ufuk
semburatnya lengkungkan namamu
semilir angin hantarkan harum tubuhmu
di tiap tapak, semakin dekat padamu
kini pelataran aspal terhampar
ribuan kendara, bernoktah, bentuk wajahmu
di pilar besar,aku bersandar
tunggu
jarum jarum berdetak
semakin lama semakin lambat
tak kunjung jua jiwamu tiba
mungkinkah aku salah arah?
stasiun tugu
kini terpatri selarik sendu
kau, aku hanya semu
Perkenalan
siapa namamu?
sebuah tanya, saat senja tunggu kereta
pentingkah?
tak usah, bila kau ragu, sahutnya
beberapa kepulan asap mengudara
jentik jemarinya, luruhkan abu diujung sigaret, hampir habis
kereta tak jua datang, ada desah, gelisah, aku, dia
pendar spotlight dari jalan benyamin sueb sampai di sini
di dua palang besi, fungsi sebagai kursi
senja telah lama pergi
kemanakah sang naga besi
malam semakin luruh
sebuah siar kini terdengar
kabar sang naga kehilangan nyawa di stasiun kota
kau, aku, kini bertukar nama
di dalam angkot, tuju rumah