rindu yang berkarat
terlalu lama melekat
dalam rasa yang semakin pekat
laun, terasa kelat
dan engkau masih saja di sini
diam, hening, di sudut paling sepi
tanpa raut, tanpa rona, tanpa seri
lalu bagaimana aku membuangmu?
menyuruhmu pergi dan berlalu
bawa serta sekelumit jingga yang kau genggam, waktu itu
bukan, bukan aku tak butuh, aku sedang ingin memandang megamega, perlahan mengabu, kelabu
sedang kutunggu hujan
juga petirnya yang berkilatan
dan gunturnya yang berdentam, dentam, bagai gada berbenturan
ketika dia menderas, membadai, berpusaran, ku akan membelahnya, lantas ikut serta terbang ke awan-awan
lepaskan, lepaskan, jiwa-jiwa yang selama ini terbelenggu pikiran dalam badan
dan biarkan rindu yang berkarat
gelepar dalam sekarat
mati, mati, mati...
No comments:
Post a Comment