bencikah hujan padaku?
ketika aku terbakar, kerontang, butiran titik-titik airmu tak juga turun, memadamkannya
bencikah hujan padaku?
saat anak-anak pokokku yang menjulang menua, rubuh satu persatu di hempas mesin gergaji
buliran airmu tak jua luruh dan menghalau mereka?
bencikah hujan padaku?
saat kekasih-kekasihku, satwa yang menjauh, terusir, perlahan punah
rinaimu tak jatuh dan memeluk mereka untuk tinggal
bencikah hujan padaku?
saat aku tak lagi mampu berguna sebagai paru-paru
airmu curah tertumpah, membandang, menerjang segalanya
bencikah hujan padaku?
kala aku terdera, tangan-tangan manusia menjarah, merampas segala
dan aku hanya lahan kering tak bersisa
menunggu beton-beton menggantikan pepohon
bencikah hujan padaku?
bahkan anginmu yang menderu, terburu saat melintasi raga kosongku
No comments:
Post a Comment